Mitos sekitar kesehatan mulut dan gigi

 

Banyaknya informasi yang belum diketahui sumber dan keabsahannya  sekitar kesehatan mulut dan gigi membuat banyak informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

 10 mitos  sekitar kesehatan mulut dan gigi 

Mitos : proses pemutihan gigi atau yang disebut “bleaching” adalah proses yang berbahaya karena dapat merusak enamel gigi. 

Fakta : Metode pemutihan gigi (bleaching) yang modern saat ini dapat dilakukan dengan laser yang mempunyai dampak minimal. Namun tetap harus dipahami bahwa proses pemutihan gigi tidak dapat dilakukan pada setiap orang. Terutama bagi mereka yang memiliki gigi sensitif, memiliki enamel gigi yang bermasalah serta pada ibu hamil dan menyusui

Mitos : Proses pemutihan gigi (bleaching) yang dilakukan dapat memberi efek putih pada  gigi dalam jangka waktu yang lama.

Fakta : Efek dari proses “bleaching”  dapat berlangsung selama sekitar satu tahun atau lebih, setelah itu efeknya akan berangsur-angsur berkurang

Mitos : Pemakaian tusuk gigi sehabis makan dapat memperlebar jarak antar gigi

Fakta : Pemakaian tusuk gigi sehabis makan tidak memberi efek memperlebar jarak antar gigi. Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan pemakaian tusuk gigi dapat merusak gusi dan jaringan lunak lainnya dalam mulut. Selain itu juga efek kebersihan dari tusuk gigi itu sendiri perlu diperhatikan.

Mitos : Wanita sedang haid/menstruasi tidak boleh melakukan pencabutan gigi

Fakta : Saat menstruasi pada wanita terjadi proses perubahan hormonal, yaitu peningkatankadar estrogen dan progesteron yang bisa menyebabkan gusi menjadi lebih rentan terhadap peradangan namun proses pencabutan gigi tetap dapat dilakukan. Untuk menghindari resiko pencabutan sebaiknya ditunda hingga siklus akhir menstruasi dimana kadar estrogen sedang rendah.

Mitos : Bila Gigi atas yang sakit dicabut maka akan mempengaruhi syaraf mata. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan 

Fakta : Syaraf yang ada pada bagian Gigi Geligi atas berbeda dengan syaraf pada mata. Jika seseorang mengalami sakit gigi karena lubang/karies pada gigi atas, infeksi yang menjalarinya memang dapat mencapai pipi hingga mata. Namun pencabutan pada gigi atas tidak akan menyebabkan kebutaan.

Mitos : Bila sakit gigi lebih baik langsung dicabut daripada ditambal. 

Fakta : Bila perawatan lain sudah tidak mungkin dilakukan, pencabutan gigi adalah alternatif paling akhir. Gigi sebisa mungkin dipertahankan. Efektifitas dalam mengunyah akan berkurang jika kehilangan satu gigi saja. Sebaik apapun gigi tiruan tidak dapat mengganti sebaik gigi asli.

Mitos : Setiap jenis perawatan gigi sangat menyakitkan 

Fakta : Saat ini tindakan perawatan terhadap gigi tidak lagi menyakitkan. Kemajuan teknologi telah dapat membuat perawatan terhadap gigi pasien tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan.

Mitos : Obat kumur dapat menghilangkan bau mulut

Fakta : Keefektifan obat kumur dalam mengurangi jumlah bakteri penyebab bau mulut hanya berkisar 12 jam setelah pemakaian. Justru perlu diperhatikan pemilihan terhadap obat kumur yang dipakai, hindari pemakaian obat kumur yang berbahan dasar alkohol karena justru dapat memperberat bau mulut bila digunakan secara berlebihan karena alkohol dapat membuat mulut kering.

Mitos : Makan banyak coklat menyebabkan kerusakan gigi

Fakta : Makan coklat tidak menyebabkan kerusakan pada gigi. Kebiasaan tidak menyikat gigi atau berkumur setelah makan coklat  adalah penyebab sebenarnya dari kerusakan gigi anda. Biasakan untuk menyikat gigi / berkumur setelah makan coklat atau makanan yang manis.

Mitos : Tidak perlu ke dokter gigi jika tidak ada masalah pada gigi 

Fakta : Kita tetap harus melakukan perawatan rutin minimal 2x dalam setahun. Kadang hanya dokter gigi yang dapat melihat masalah yang terjadi pada gigi anda. Sehingga pencegahan terhadap masalah yang lebih parah dapat dilakukan sejak dini.

Demikian beberapa mitos yang beredar seputar kesehatan mulut dan gigi. Tetap menjaga kesehatan gigi ya guys..sayangi gigi anda, karena itu asset yang tak dapat tergantikan lagi.

 

Leave A Comment...

*